Jadi kamu lebih baik dari orang lain ?

Yeay, akhirnya bisa menepati janji buat nulis; walopun janjinya tadi sore sih, cuma karena satu dan lain hal aka jalan2 n malas2an n ngerjain tugas, jadilah baru sekarang mengupdate blog😀

Hmm, banyak yang mau diupdate cuma suka lupa haha.. Jadilah diupdate pemikiran terbaru saja lah ya..

Selama beberapa lama dan mungkin sudah menahun saya menemukan orang2 yang begitu merasa dirinya lebih baik dari orang lain, baik dalam hal kekayaan, kepintaran, keganteng/cantikan, kesucian, dan kesalehan dalam beragama. Well, kadang sadar atau ga sayapun seringkali menyombongkan diri dengan apa yang saya punya yang menurut saya lebih dong daripada orang lain. Syukurnya, karena saya sudah disadarkan betapa saya cuma orang berdosa dan ga bisa apa2 tanpa Tuhan, saya benar2 terus berjuang melawan kesombongan2 saya ini (fiuuhh, semoga hasilnya nampak jelas ya teman2). Dosa kesombongan benar2 menjadi persoalan tersendiri bagi saya, apalagi kalau sudah dipuja-puji sana-sini (See? pujian juga mendatangkan sandungan bagi orang lain, hehe..). Tapi semuanya tergantung kecenderungan hati sih sebenarnya, pujian2 yang diterima apakah dijadikan “sayap” untuk menerbangkan pride diri, atau dijadikan alat untuk menunjukkan kebaikan Tuhan dan keluarbiasaan Tuhan dalam hidup kita yang gak bisa apa2 ini sebenarnya, give Him the ultimate praise! Saya selalu berdoa kecenderungan hati saya ikut pilihan yang kedua. Amin.

Nah, oleh karena keyakinan diri saya ini, mungkin jadinya saya jadi sering heran aka kesal dengan orang2 yang pada akhirnya terlarut pada stigma superior ini. Banyak orang yang merasa dirinya lebih baik dengan orang lain sehingga akhirnya malah menginjak2 hak orang lain, mendeskreditkan orang lain, memarjinalkan orang lain, dan bahkan merasa dirinya mendapat “lisensi” untuk mengendalikan hidup orang2 yang di bawah mereka (baik dalam kemampuan, kekayaan, etc.)

Sejarah sudah membuktikan sih, bagaimana saat ada manusia yang merasa diri lebih baik daripada orang lain, yang terjadi malah bencana kemanusiaan. Om kumis kotak aka Hitler contohnya, karena merasa bangsa Arya lebih superior dari ras lainnya (dan alasan sakit hati lainnya), pembantaian puluhan juta orang Yahudi menjadi akibatnya. Oh iya, masih ingat pelajaran sejarah tentang penjajahan terhadap negara2 ? Ini juga bentuk superiorisme diri, merasa lebih baik dari yang lain. Negara A menjajah Negara B, Negara C, menjajah negara D. How come? Mereka (penjajah) merasa lebih pintar, lebih lihai, lebih manipulatif dan lebih yang lainnya terhadap negara terjajah. Seringkali bahkan kata yang dipakai bukan penjajahan, tapi penaklukan. Wew, kata yang sangat kuat sebenarnya. Saya makin ngelihat luar biasanya efek penjajahan di dunia setelah bergaul dgn teman2 dari berbagai negara yang menjelaskan negara mereka dulunya jajahan Spanyol, Inggris, Perancis, Belanda (buat org Indonesia) dll lah. Iya, penyebab penjajahan ada banyak, tapi menurut saya, hal ini tidak akan terjadi bila negara2 penjajah tersebut tidak memiliki perasaan superiorisme terhadap negara lain yang dianggap mudah dibodohi, diperalat untuk memanfaatkan sebesar2nya negara terjajah tersebut.
Not to mention kondisi saat ini dimana berbagai perselisihan negara2 di dunia karena merasa negara mereka lebih baik dari yang lainnya (apalagi negara yang saling bertetangga🙂 ). Israel-Palestina, Indonesia-Malaysia, Taiwan-Jepang, Mongolia-China, Negara2 Balkan-Rusia, dll. Okay, latar belakang perselisihan negara2 ini memang beraneka ragam, namun dari pendapat saya pribadi, kesamaan penyebabnya juga adalah superiority syndrom ini. Bedanya dengan jaman baheula, ga ada lagi negara yang mau dijajah, ataupun negara yang mau dikalahin atau diinjak2 oleh negara yang lain yang mungkin lebih superior secara wealth. Kenapa begitu? lagi2 imo, kita di jaman sekarang sudah tau apa itu kedaulatan negara yang bahkan sampai titik darah penghabisan akan terus dipertahankan oleh warga negara ybs, selain itu juga kita juga sudah punya pandangan yang sama, setiap manusia (negara) adalah setara, tidak ada yang lebih super dari yang lain. Well, kita belajar HAM dengan sangat baik🙂

Okay, kembali ke masa kini dan secara individual. Akhir2 ini sering sekali saya menemukan orang yang merasa dirinya lebih baik daripada orang lain. Mulai dari hal2 kecil, nanya2in nilai UTS sekelas biar tahu ternyata dirinya yang nilainya paling tinggi (hmm, pas sekolahan oke lah ya, kan masih sistem rangking, tapi di S2? well, mengutip kata dosen saya, S2 bukan lagi nyari nilai, tapi nyari pengetahuan uy!); merasa diri paling benar dalam cara berhubungan dengan orang lain; merasa diri lebih suci dari orang lain karena rajin sembahyang or berdoa (really? heu); merasa diri paling benar dalam beragama (sigh, sudah malas sekali ngebahas yang gini2an, terlalu banyak konflik yang terjadi karena orang2 yang merasa diri paling benar ini, apalagi di Indonesia, banyak nyawa melayang karena orang2 sok pintar tapi bodoh ini sorry to say); dan berbagai situasi “merasa diri” lainnya.
Oh iya, karena saya lagi di luar Indonesia, sering banget juga contoh kasusnya adalah kita (orang Indonesia) merasa diri lebih baik daripada orang2 Taiwan, even foreigner lainnya; we don’t drink, we don’t curse, we don’t party, atau yang lebih parah we don’t do free sex, etc.

But, do we really better then others? Apa hidup kita sudah benar2 lurus ya? Benar2 udah bersih dari dosa? Tiap hari dah ga bohong, ga berpikiran tidak pantas, ga lihat yang ga layak, ga berkata yang nyakitin orang? Jadi kita berhak merasa diri lebih baik, merasa orang lain lebih hina? Karena agama kita lebih bagus dan benar, maka orang lain yang berbeda adalah kafir and they don’t deserve any kindness and mercy at all? They don’t deserve to know the truth?  Apa superiorisme diri ini ngasih kita lisensi buat ngejudge orang lain, bahkan melempar batu aka merajam orang lain, bahkan menghilangkan nyawa orang lain?

Selama kita masih hidup di dunia, kita masih punya roh dan daging,  selama itu pula kita masih dan masih berpotensi berdosa. So, adakah yang lebih baik dari yang lain? Ga ada. Semuanya sama2 berdosa, dan pada akhirnya binasa bila tidak diselamatkan. Manusia (menurut kepercayaan saya) diciptakan dari debu tanah, dan pada akhirnya akan kembali ke tanah, tidak membawa apa2, tidak kekayaannya, tidak kehebatannya, tidak kecakapannya, tidak kepandaiannya. Pada akhirnya iman yang akan menyelamatkan. Bagaimana kamu menjalani hidup membuat kamu semakin mengenal Pencipta. Mengenal sang Pencipta termasuk mengenal ciptaanNya, apalagi mengasihi sesama manusia ciptaanNya. Kalau ke sesama manusia aja merasa tidak sama, bagaimana menghadap sang Pencipta yang menyatakan semua cipataanNya itu baik adanya ?

Yakin, masih mau sombong dengan apa yang dimiliki? Tuhan sentil sedikit aja udah lewat kok😛
So, apa yang bisa dan mau disombongkan di dunia ini pada akhirnya?🙂

Tagged: , , , ,

One thought on “Jadi kamu lebih baik dari orang lain ?

  1. reza 2 Desember 2012 pukul 10:02 pm Reply

    nice irene,,,sederhana tp menyentuh,,,;-)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: