Dedicated to Ibu Chambers

Setelah membereskan kuliah di minggu ini dan berniat leha-leha sejenak dengan main si muka buku, ternyata mendapatkan kabar yang duka. Ibu Ruth Chambers, istri dari Pak John Chambers sudah dipanggil pulang terlebih dahulu oleh Bapa di surga. Hmm, kayaknya beum pernah saya singgung tentang beliau-beliau ini di blog saya ya, baiklah saya ceritakan sedikit🙂

Bapak dan Ibu Chambers (demikian biasanya kami memanggil mereka) adalah misionaris asal Inggris yang dulunya melayani di Indonesia. Mereka mulai pelayanan di Indonesia tahun 1970an dengan menjadi dosen di IPB (Pak John Chambers adalah doktor di bidang Geografi, sedangkan Bu Chambers master di bidang meteorologi). Di IPB pula pertama kali mereka menjadi dosen agama Kristen Protestan dan mulai mengembangkan persekutuan mahasiswa Kristen di IPB (please CMIIW teman2 IPB yang tahu lbh detail :) ). Selama menjadi dosen agama Kristen ini, banyak mahasiswa yang dimenangkan bagi Kristus. Mereka benar2 menjadi teladan dengan tidak hanya berbagi firman tetapi juga berbagi hidup mereka. Namun setelah tinggal 20an tahun di Indonesia, visa mereka tidak diperpanjang dan harus ke luar dari Indonesia. Peran mereka menjadi dosen agama digantikan oleh dosen-dosen Kristen di IPB yang dulunya adalah mahasiswa (i) mereka sendiri (dosen yang mengajar di kelas agama juga merupakan dosen untuk mata kuliah “sekuler” lain di IPB loh).

Oh iya, saya mengenal beliau berdua saat mengikuti program PPAK tahun lalu. Bapak dan Ibu Chambers adalah penggagas PPAK dan hingga saat ini occasionally Bapak dan Ibu Chambers (sewaktu masih hidup) masih sering berkunjung ke Indonesia, walopun tidak menetap lama untuk mengajar di PPAK. PPAK sendiri merupakan gagasan beliau berdua setelah melihat kenyataan bahwa banyak alumni Kristen yang dulunya bahkan tergabung di PMK, saat di dunia kerja tergolong “kompromi” terhadap arus dunia. PPAK memperlengkapi alumni2 muda Kristen untuk berdiri teguh, berdasarkan Firman Tuhan, namun juga kontekstual. Sebagian besar pengurus yayasan PPAK merupakan murid dari beliau berdua (bukan hanya alumni IPB).

Luar biasa bagaimana Tuhan memakai hidup Bapak dan Ibu Chambers untuk menjadi berkat bagi banyak orang, dan bagi saya pribadi. Walaupun tahun lalu hanya bertemu dengan beliau dengan singkat, saya sangat diberkati. Bapak dan Ibu Chambers menceritakan bagaimana mereka mengenal Kristus, mengenal satu sama lain dan berkeluarga, dan pada akhirnya memenuhi panggilan Tuhan bagi mereka untuk ke Indonesia. Bukan perkara mudah pada akhirnya mereka memenuhi panggilan Tuhan di Indonesia, namun oleh karena kasih kepada Kristus dan dengan iman serta penuh kesetiaan mereka mengerjakan apa yang Tuhan perintahkan dalam hidup mereka.

Pasangan Bapak dan Ibu Chambers bagi saya adalah pasangan yang unik. Pak Chambers merupakan sosok yang sangat lembut dalam tingkah laku dan tutur kata (beliau fasih berbahasa Indonesia dengan logat Jawa ^^), sedangkan Ibu Chambers cenderung lebih tegas dan to the point. Ah iya, menurut saya tatapan mata Pak Chambers sangat teduh, sedangkan bu Chambers sangat tajam (walaupun tatapannya tajam, tidak membuat kita takut untuk menatap matanya ^^) . Saya dan beberapa teman PPAK berpendapat bahwa mereka adalah pasangan yang sangat seimbang dan sepadan; dari segi akademik, kerohanian (beliau adalah partner pelayanan satu sama lain), sifat yang (nampak) berbeda namun saling melengkapi satu sama lain. Saya melihat bagaimana mereka melengkapi satu sama lain saat mendengarkan khotbah Pak Chambers. Saat Pak Chambers berkhotbah, Bu Chambers pegang kendali atas power point  dan menjadi time keeper buat Pak John Chambers; saat Pak Chambers sudah melewati batas waktu, beliau akan memberi isyarat agar Pak Chambers segera mengakhiri khotbahnya (kadang beliau akan bilang “John, your time is up!” LOL). Well, luar biasa bagaimana Tuhan menempatkan pasangan hidup untuk anak-anakNya agar lebih efektif dalam melayani Dia kan ? ^^

Ibu Chambers adalah seorang dosen secara pekerjaan (beliau ahli cuaca loh), namun utamanya seorang istri dan ibu bagi kedua anak-anaknya, dan yang paling penting, beliau juga adalah pelayan Tuhan. Walaupun juga bekerja sebagai dosen, beliau tetap menjadi istri dan ibu yang bijak dalam mengatur rumah tangganya (waktu itu bahkan beliau bercerita, harus konsultasi ke ahli gizi untuk menanyakan makanan yang aman dikonsumsi anak2nya selama di Indonesia, untuk memastikan kehigienisan dan kecukupan gizi anak2nya– standar bule beda kali yaa..). Singkatnya, ibu Ruth Chambers menghidupi firman di Amsal 31, menjadi wanita bijak. Saya sebagai wanita yang masih terus belajar menajdi bijak, bersyukur melihat firman yang dihidupi dalam hidup beliau.

Dalam pertemuan yang singkat dengan beliau, banyak hal yang saya peroleh. Kalimat yang sangat membekas dari Bu Chambers yang saya masih dan akan terus ingat ” When I say I will do it, then I will do it!” (kelihatan sisi tegasnya beliau kan ya? hehe..) saat bercerita tentang komitmennya dalam melayani, bahkan dihadang apapun. Beliau bercerita, seringkali gara2 hal kecil, kita undur melayani Tuhan; even “cuma” gara2 hujan deras, jadi melewatkan persekutuan (well, ingat beliau tinggal di Bogor dulu?🙂 ). Kalimat beliau ini menjadi pelecut bagi saya untuk melayani Tuhan lebih lagi dan memberi yang terbaik dalam apapun yang saya kerjakan, tidak ada kata undur. “Saat saya bilang saya mau kerjakan, ya akan saya kerjakan!” demikian kadang saya memotivasi diri dengan kalimat yang diinspirasikan oleh Ibu Chambers.
Saya juga teringat bagaimana beliau menyampaikan bahwa sebagai orang Kristen, kita tetap harus menjaga tubuh, jiwa, dan roh. Seringkali kita hanya berpikir rohani harus terus dijaga, padahal tubuh juga diberikan oleh Tuhan untuk mendukung pelayanan kan? Makanya jangan lupa makan makanan sehat dan berolahraga, demikian kata beliau.

Tahun lalu saya masih dapat bertemu dengan mereka berdua (umur mereka kira-kira sudah 80 tahun lebih), namun PPAK tahun ini saya hanya bertemu Pak John Chambers, tanpa ditemani Ibu Chambers yang dilarang oleh dokter untuk melakukan perjalanan jauh oleh karena kondisi kesehatannya yang kurang baik. Kondisi Ibu Chambers tidak saya pantau keadaannya hingga saya akhirnya mengetahui bahwa hari ini beliau dipanggil Bapa di surga. Saya teringat tahun lalu, Bapak dan Ibu Chambers menceritakan bagaimana “persiapan” mereka berdua bila salah satu dari mereka akhirnya dipanggil Bapa di Surga duluan (mengingat umur mereka yang sudah lanjut). Ibu Chambers bercerita, bagaimana mereka saling mengajarkan pekerjaan yang biasanya hanya dilakukan oleh salah satu dari mereka, misalnya Bu Chambers belajar menyervis mobil (periksa aki, oli, dll mengenai perawatan mobil) yang biasa dilakukan Pak Chambers, dan Pak Chambers mulai melakukan pembayaran bill bulanan seperti yang biasa Bu Chambers lakukan. Saya baru kali ini mendengar pasangan oma-opa yang benar2 menyiapkan pasangannya untuk mandiri, bila salah satu dari mereka sudah berpulang duluan. Wow..

Mendengar kabar duka tentang Ibu Chambers mengejutkan saya (dan menyedihkan hati😦 ), tapi saya bersyukur Ibu Chambers pada akhirnya sudah akan bersama2 dengan Bapa di Surga. Saya bersyukur pernah mengenal Ibu Chambers yang selama hidupnya telah menginspirasi banyak orang dengan firman Tuhan yang dihidupinya. Semoga kami yang hidupnya pernah diinspirasi oleh Ibu Chambers dapat juga menjadi saksi yang setia seperti beliau. Akhir kata, semoga Pak Chambers dan keluarga diberikan Tuhan ketabahan dan penghiburan.

She has fought the good fight, She has finished the race, She has kept the faith. All Glory be to God alone!

Precious in the sight of the Lord is the death of His saints. Psalm 116:15

(Teman2 yang ingin mendengarkan tanya-jawab dengan Bapak dan Ibu Chambers, serta khotbah pengutusan PPAK oleh Pak Chambers, dapat mengunduhnya di sini dan bertanya japri pada saya untuk passwordnya :D )

Tagged: , , ,

2 thoughts on “Dedicated to Ibu Chambers

  1. kraukraukdi 27 Oktober 2012 pukul 8:25 am Reply

    Wow! Bagus mak!
    “ When I say I will do it, then I will do it!” seandainya aku bertemu beliau saat masih hidup pasti bisa belajar lebih banyak😦

    • laifofairin 27 Oktober 2012 pukul 1:39 pm Reply

      Gpp Nold, harusnya (dan memang ada) orang yang sama dan bahkan lebih baik lagi dr beliau kok. Semoga kamu ketemu banyak orang lain yg bs menginspirasi dan kamu pun bs menginspirasi bnyk orang ya.. Well, I’m sure of that, krn kamu pengikut Kristus kan? hehe..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: