Pergumulan (Lanjutan)

Lanjutan tulisan sebelumnya. Catatan ini sudah disampaikan di WM 10 Desember 2011.

Hidup sebagai orang percaya adalah hidup yang terus-menerus dikuduskan oleh Roh Kudus agar taat kepada Kristus. Salah satu tanda hidup orang percaya yang dikuduskan adalah hidup yang bergumul. Hidup Kristen yang tak pernah bergumul adalah hidup Kristen yang sia-sia. Mengapa? Karena bergumul adalah tanda kita memiliki hubungan pribadi dengan Allah, bukan hanya mengenal Allah secara kognitif/theologi. Makin kita bergumul di hadapan Allah, kerohanian kita makin ditumbuhkan, karena kita semakin mengenal Allah kita secara eksistensial. (Pdt Billy, Ajarlah Kami Bergumul)

Kitab Mazmur merupakan kitab yang ditulis penuh dengan pergumulan penulisnya. Dari kitab ini dapat kita lihat bahwa pergumulan itu ditandai dengan penyesalan dan kekaguman, keyakinan dan keraguan, jawaban dan pertanyaan, sorak-sorai dan ratapan, bahkan berdiam diri. Contoh : Mazmur 73 menceritakan betapa orang fasik terlihat bahagia disbanding orang benar di hadapan Tuhan. Pemazmur cemburu dengan kebahagian orang fasik ini. (3-5) Namun saat ia bergumul dan mencari Allah, Ia menemukan bahwa kebahagiaan orang fasik itu sia-sia dan menuju kebinasaan. (16-20) Bahkan diakhiri dengan baik oleh janji pemazmur untuk tetap setia dan mencari Tuhan dan memuliakan Tuhan dalam segalanya. (21-28).

Tujuan pergumulan bukanlah untuk mempertanyakan kedaulatan Allah lalu meninggalkan-Nya, tetapi semuanya bertujuan agar orang percaya makin mengenal Allah secara pribadi di dalam setiap jalan-jalan-Nya yang sering kali tidak kita pahami. (Pdt Billy, Ajarlah Kami Bergumul)

Pergumulan tidak lepas dari hidup orang2 percaya di dalam alkitab, bahkan hidup Yesus Kristus sendiri, salah satunya saat Ia bergumul di Taman Getsemani. (Markus 14:32-42)

Dari teladan Kristus, ada beberapa hal yang Ia lakukan dalam bergumul :

  1. Ia mencari tempat yang sepi untuk bergumul. (Mark 14:32) Tempat yang sepi menunjukkan tempat dimana kita dengan tanpa gangguan hal2 lain (orang lain, suara2 yang mengganggu, dll) sehingga dapat focus.
  2. Ia tidak bergumul sendiri, Ia meminta 3 murid2 terdekatnya untuk ikut berjaga2 (di kitab Lukas dinyatakan berdoa untuk tidak jatuh dalam pencobaan). Dalam bergumul seringkali kita memerlukan orang2 yang dapat turut menopang kita dan mendoakan kita, ceritakan sedikit banyak kondisi kita (kadang tidak perlu detail kalau susah diceritakan dan kemungkinan orang itu belum akan mengerti—lih. Ay. 34). Kita tidak mampu sendiri; salah satu peran pembimbing rohani adalah hal ini! *dalam bergumul tidak melulu harus Pembina rohani, paling tidak teman2 sepelayanan yang dapat dipercayai dan memiliki persekutuan yang baik dgn Allah. (cth : Rasul Paulus minta jemaat di Roma untuk bergumul bersama2 dengan dia (Roma 15:30)
  3. Berdoa dan menyatakan keadaan diri (hal yang dipikirkan dan dirasakan) dengan jujur di hadapan Allah (ay. 35). Tidak ada yang tersembunyi di hadapan Allah, nyatakan segala beban di hatimu pada Allah, tidak usah ditutup2in dengan kata2 yang indah bila memang tidak demikian adanya keadaan hatimu.
  4. Menyatakan kehendak kepada Allah. (ay.36) Tidak ada salahnya menyatakan apa keinginan kita secara manusia kepada Allah. Namun dalam hal ini hal yang harus menjadi “pegangan” kita yakni, kita seperti memberikan catatan keinginan kita kepada Tuhan, hasil akhirnya, mau langsung dibakar, dicorat-coret, dihapus sana-sini, ya terserah padaNya. Hal ini bukan seperti mengajukan proposal yang tinggal dibubuhi tanda tangan.
  5. Bagi orang2 yang menopang orang yang bergumul : ingatlah untuk selalu berjaga2, terus mendoakan. Dipercayai untuk mendoakan pergumulan orang bukanlah hal yang mudah dan sepele, kerjakanlah dengan sepenuh hati karena kasih. Bahkan seringkali dalam turut mendukung sahabat yang bergumul kita pun beroleh kekuatan dalam Tuhan dan semakin mengenal Tuhan.
  6. Pada akhirnya, bukan kehendak kita yang jadi, namun kehendak Tuhan yang jadi. Ini yang harus menjadi iman kita. Iman yang harus terus bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus hari demi hari dan mau taat. Pada ayat 41-42, Tuhan Yesus menunjukkan bahwa proposalnya ditolak! Tidak ada jalan lain selain menjalani kehendak Allah Bapa. Seringkali kita tidak sampai pada tahap ini. Kita takut untuk mengetahui bahwa kehendak Allah tidak sama dengan kehendak kita dan kita diharuskan patuh menjalani kehedakNya.

Pergumulan tidak diakhiri dengan selesainya persoalan, tujuan akhirnya bukan itu. Namun semakin mengenal Tuhan dalam hidup dan kehidupan kita. Allah yang Maha Kuasa itu akan memampukan kita untuk menghadapi setiap persoalan sesuai dengan kehendakNya, asalkan kita mau TAAT.

Ada janji : Tuhan yang menguatkan dalam semuanya, Roh Kudus memampukan kita. Siap menunggu waktu Tuhan yang terbaik.

Pengenalan akan kehendak Tuhan bersumber pada Firman-Nya sendiri. Oleh karena itu dalam bergumul tidak seharusnya kita mendasarinya pada perasaan manusia yang tidak menentu, dengan pikiran rasional dan logis, namun dengan Firman Allah yang hidup.

“Perasaan manusia seperti ombak di laut, naik-turun. Namun Firman Tuhan tetap selama-lamanya”

Dia tetap baik dulu, sekarang, dan sampai selama-lamanya!

-dan apapun yang terjadi, ya, saya akan tetap setia dan mengatakan ya untuk tiap rancangan-Nya dalam hidup saya-

Tagged: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: